Mungkin kita pernah mengalami bagaimana mengatur waktu agar semua bisa tercapai dengan baik, ada tanggungjawab yang harus diselesaikan, ada tugas yang harus dikerjakan, ada juga mimpi yang harus dikejar, dari sekian banyak itu tentu kita berpikir kita hanya punya waktu 24 jam. bisakah itu?
Saya juga pernah berfikir demikian, namun saya berpikir bahwa mereka juga punya waktu yang sama yaitu 24 jam, Tuhan itu adil yang memberikan semua manusia waktu yang sama, pertanyaanya adalah. mereka bisa mengejar mimpi mereka tanpa kehilangan banyak hal? tanpa meninggalkan tanggungjawab dan tugas mereka, bagaimana mereka bisa melakukan semua itu? apakah karena berbeda takdirnya? saya pikir tidak, ini tentang management waktu, mungkin kasus dibawah ini jadi sebuah reminder untuk saya sendiri, bagaimana kita bisa mengelola waktu namun bisa tetap belajar dan mengejar mimpi kita sendiri.
Kunci dalam manajemen waktu adalah menyusun prioritas. Keterbatasan merupakan kodrat manusia, kita tidak harus menjadi robot untuk bisa menyelesaikan semua daftar agenda.
Bagaimana Jika kita Tidak Memiliki Banyak Waktu untuk Menyelesaikan Semua Pekerjaan?
Ketika sedang belajar di universitas, saya selalu aktif mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh pihak kampus. Dari sekian banyak seminar yang saya ikuti, ada satu yang terus melekat di ingatan saya hingga saat ini. Sebenarnya bukan karena saya menyukai materi yang disajikan ataupun karakter instruktur yang mengisi acara, tetapi lebih pada sesi kuis yang dibawakan oleh salah satu instruktur sebagai upaya untuk mencairkan suasana. Pada saat itu saya belum tahu persis bahwa kisah dari Stephen Covey ini sangatlah populer.
Dalam sesi kuis tersebut, sang instruktur menunjukkan sebuah toples berukuran sedang, beberapa batu besar, beberapa kerikil kecil, dan pasir. Tantangannya adalah memasukkan semuanya ke dalam toples. Beberapa peserta mengajukan diri menjadi sukarelawan untuk menyelesaikan tantangan tersebut. Saya ingat ada dua orang yang beranjak ke depan, satu per satu secara bergantian mencoba menyusunnya.
Mereka mencoba meletakkan pasir atau kerikil terlebih dahulu, kemudian memasukkan batu, hingga waktu berakhir tidak satu pun yang berhasil menyusun semua material ke dalam toples. Kemudian sang instruktur mengambil alih upaya tersebut, dia menaruh batu-batu besar kemudian kerikil dan akhirnya pasir, selesai. Sang instruktur kemudian melanjutkan, โbatu besar disini adalah lambang tugas-tugas terpenting kita, kita harus menjadikan mereka sebagai prioritas. Jika tidak, kita tidak akan pernah menyelesaikannya.โ
Ya, kegagalan demi kegagalan bisa terjadi setiap saat karena ketidakmampuan kita dalam memprioritaskan hal yang penting. Tetapi Anda tentu memiliki banyak hal penting dalam hidup, mulai dari tugas yang harus diselesaikan untuk urusan pekerjaan, tugas menjadi orang tua yang baik, kewajiban membayar sewa, dan sebagainya. Dengan kata lain, terlalu banyak batu yang harus disingkirkan. Dan dalam hal ini, seringkali kita mengabaikan fakta bahwa kita memiliki titik keterbatasan dan tidak menyadarinya.
Waktu hanya ada 3, kemarin, hari ini, besok. yang lalu jadikan sebuah pelajaran, hari ini lakukan yang terbaik, besok jangan takut untuk bermimpi.
Jadi, sangat penting untuk memahami bahwa pada dasarnya tidak ada prinsip yang mengharuskan kita memenuhi semua peran. Stephen Covey menegaskan ketika aturan permainan membuatnya tidak bisa dimenangkan, satu-satunya cara untuk menang adalah mengubah aturan. Untuk itu, kita perlu mencari tahu atau mensortir hal-hal yang bisa kita tinggalkan sehingga bisa melakukan hal-hal yang lebih penting lagi.
Satu hal yang pasti, jika kita menghabiskan semua waktu dan energi kita pada hal-hal kecil, kita tidak akan pernah memiliki ruang untuk hal-hal yang penting bagi kita tentunya. Begitu juga dalam bisnis, jika kita terus membawa bisnis melakukan hal-hal yang tidak menghasilkan nilai, itu berarti kita hanya menambah pemborosan. Tentunya, kita tidak menginginkan hal itu bukan?
Semoga bisa terus belajar, bagaimana mengelola waktu dengan skala prioritas..
