Perlukah saya menulis ini? ya, sebuah cerita perjalanan kami beberapa tahun lalu tentang antusiasme bisnis yang masih amatir namun punya mimpi. keras kepalanya kami hingga mampu membangunkan kami setiap malam, disaat yang lainnya tertidur. perjalanan kami dari awal, seperti seorang anak mahasiswa pada umumnya, kami ingin tidak hanya sekedar kuliah, belajar dan setelah itu mencari kerja, kami lebih bandel karena yang kami pikirkan adalah bagaimana jika kami nanti setelah lulus tidak mencari pekerjaan, tapi kami membangun mimpi kami sendiri?

Bisa?

Belum, realita berkata lain bahwa kita boleh punya mimpi, tidak masalah untuk punya mimpi tinggi dan itu bagus aku pikir, namun kita berhadapan dengan sesuatu hal yang harus kita lalui setiap hari, kita butuh makan, kita butuh uang, its okey jika kita punya mimpi ingin membangun bisnis dari kamar kos sekalipun, percaya saja bahwa suatu saat nanti itu semua akan menjadi nyata.

Namun, aku pikir jangan lupakan sesuatu hal: hari ini saya harus makan, dan darimana saya bisa makan? kita butuh uang untuk membeli makanan, apakah kita perlu terus memperjuangkan mimpi tanpa kita berpikir bahwa kita kelaparan? NO, tidak semua orang paham dan mengerti, bagaimana keadaan dan dilematika orang yang punya mimpi ditengah realita, tapi.. disitulah tantangannya..

Akupun penasaran, apakah hanya aku yang merasakan itu semua? Dulu, aku terjebak dengan rasa itu, namun setelah aku banyak bertemu dengan seseorang sejenis, yang sama, yang punya mimpi dan berusaha untuk mencapai mimpinya dengan kondisi yang terbatas, jawabannya sama. mereka juga mengalami hal serupa. Artinya, semua proses itu tidaklah bohong kan? Baiklah,..

Aku mulai semua cerita itu dari kamar kost kecil berukuran mini, mungkin sangat mini untuk disebut sebuah bangunan untuk tempat tinggal, namun dari sanalah aku banyak hal yang aku dapatkan, salah satunya, belajar untuk terus tumbuh dengan berbagai hal yang terbatas.

Saya tidak sendiri,

teman yang selalu setia untuk sekedar datang dan bermain, ada setiap hari. tempat ini kecil, mungkin sumpek untuk sebagian orang, namun dengan yang space yang ada, mungkin aku jadikan kamar kecil ini sekaligus kantor untuk saya, kami melanjutkan mimpi setelah kuliah.

Kami sering berdiskusi banyak disini, sejarah terbukti  diantara dinding-dinding itu..semua yang kita coret-coret itu adalah bagian dari mimpi dan target kita, dan itu semua telah tercapai. aku bersyukur, masih diberikan kemampuan untuk semangat, bermimpi ditengah jatuh bangun yang kami alami.

Tapi, anggap semua itu adalah sebuah sekolah…

Sebenarnya banyak yang ingin saya tuliskan disini, namun..beberapa masih belum rapi dipikiranku, saya menulis ini sore hari, dengan cuaca yang sedikit mendung dengan secangkir kopi hangat ikut mengalun lagu nostalgia ini. saya ingin sekali berbagai cerita sebenarnya, lebih tepatnya untuk siapapun, mungkin mereka yang sedang kuliah dan punya mimpi yang sama seperti halnya saya dulu.. (kamu tidak sendiri) untuk mereka yang punya mimpi, terus saja membangunnya sedikit demi sedikit, apapun peluang yang ada ambil, terus jaga semangat untuk terus tumbuh, sesekali terkadang kita mengalami kegagalan bukan karena apa, namun terkadang ada hal-hal yang membuat kita berhenti entah karena lelah, ingin menyerah, atau terkadang kita perlu berpikir apakah benar ini yang akan terus kita lakukan, dan itu membutuhkan proses.

Aku pikir siapapun yang punya mimpi dan sekarang aku sebut itu seorang technopreneur, atau bisa jadi startup founder kalau bahasa sekarangnya, dia pasti punya sesuatu hal yang terus dibangun, diperjuangkan dan terus untuk dicapai, ya seperti itulah; mencoba tumbuh, bertahan hidup dengan ideologi dan mimpi nyatanya tidak mudah, tak hanya itu saja, jika kita masih berhadapan dengan diri sendiri itu masih baik, yang mungkin jadi beban ketika kita dalam kondisi (memperjuangkan mimpi, disaat kita butuh realita) ya masalah sosial, bertemua teman, bertemu orang dekat dan mungkin bertemu orang-orang lain, siklus hidup terus berubah, ada juga yang selalu memberikan semangat positif namun ada juga yang menjadi penghambat semangat, beberapa kasus bilang bahwa kita tidak bisa melakukannya, tapi ketika kita akhirnya bisa mereka diam. ya itu proses yang wajar, kami tidak berlomba dengan siapapun, kami sedang berlomba dengan kami dan mimpi kami sendiri dan itupun untuk orang lain nantinya.

Namun, terkadang siklus sosial pada kenyataanya adalah; mungkin kita tidak bisa menyenangkan semua orang, atau mungkin memang kita yang tidak bisa menyenangkan semua orang. karena tidak semua orang senang dengan apa yang kita lakukan, meskipun kita mencoba, jatuh dan berusaha sendiri untuk itu itu.

Its okey…

Mungkin itu proses dalam dunia seorang dreamer, dunia para pemimpi dan dunia entrepreneur. 

Dan akhirnya, setelah banyak hal terjadi, bertahun-tahun berganti, terus belajar, mencoba dan jatuh, mencoba lagi dan jatuh dan akhirnya mencoba lagi.. barulah kita berkata, bahwa mimpi kita dulu menjadi nyata..

Iya, dengan sedikit senyum dan rasa sakit yang belum kering tapi puas, itu bukan sebuah hal yang mudah, perjalanan ini saya tulis dengan apa adanya, saya juga ingin membuktikan bagaimana proses yang dilalui oleh orang-orang yang ada dibuku-buku yang saya baca buku, apakah benar semua berawal dari mimpi?

Iya, benar.

Pada kenyataanya; tidak semua orang berani bermimpi, namun jika kamu adalah orang yang punya mimpi berani kamu punya nyali lebih dari orang lain, dan kami punya keberanian untuk mewujudkan mimpi itu. tidak hanya menjadi seorang yang sekolah, lulus, hidup lalu mati begitu saja.

Setidaknya, kita pernah berpikir kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close