Selesai sudah akhir dari cerita perjalanan bisnis inovasi ini, sebuah upaya untuk mendongkrak kekayaaan intelektual dari berbagai sisi dengan tujuan membantu mengembangkan perusahaan, baik dari sisi manajemen, bisnis, finansial, culture, organisasi hingga strategi & inovasi untuk terus tumbuh bersaing dengan kompetitor.
Banyak hal yang bisa saya ceritakan dan tulis disini, sprint ini kami mulai sejak tanggal 1 juni 2019 – 31 agustus 2019, dengan kecepatan tinggi, bekerja lebih banyak dari biasanya, fokus lebih tinggi dari biasanya, hingga melakukan semua upaya-upaya, membongkar ide-ide gila perusahaan untuk bisa mendapatkan titik klimaks nya.
Hmm.. okey kita mulai cerita darimana? ada 2 perusahaan yang sama-sama saya coba dalam studi kasus ini selesaikan dengan sprint yang sedang dipelajari.
Baiklah, ini cerita pertamanya.
1. PERUSAHAAN ECOMMERCE
Okey, kita perlu sadari bahwa dalam bisnis apapun, naik turun, itu sudah makanan sehari hari, berbeda dengan dunia self entrepreneur dimana kita yang bertugas mencari makan hari ini, sedangkan dalam bisnis tentu berbeda, bahwa kita harus tahu posisi bisnis kita ada dimana diantara kompetitor, lalu mencari apa yang bisa kita lakukan untuk membuat customer jatuh cinta? hmm… sebuah bisnis tidak boleh arogan atau sombong terhadap customer, karena tanpa mereka, kita bukan siapa-siapa right?
Kesalahan sebuah perusahaan ketika mereka berhasil adalah mereka mungkin terlalu sombong dan mengabaikan customer, sehingga jika semua customer pergi, mereka tidak bisa apa-apa.
Dimanapun juga, strategi marketing terbaik adalah : memasarkan produk sesuai dengan market (siapa customer kita), dan kegagalan terbesar dalam marketing adalah: kita memasarkan produk ke orang yang salah (usia, jenis kelamin, kebutuhan, ketertarikan dll) yang mana kita harus tahu persona customer yang akan kita tawarkan.

Nah, bicara masalah ecommerce, ternyata ada hal yang menarik disini, bahwa bisnis ini menuntut kita untuk lebih fokus ke customer & supply product. Dari hasil sprint 3 bulan yang telah dilakukan, mungkin seorang pemasar bertugas untuk mencari customer, mencoba berbagai cara, strategy untuk membuat customer tertarik. Namun disisi lainnya kita juga harus berpikir bahwa : Apakah produk yang kita tawarkan dibutuhkan oleh mereka? lalu Apakah produk yang kita tawarkan benar-benar sedang banyak dicari? incase dalam market sejenis. Tentu seorang marketing handalpun tahu, bahwa kita tidak bisa menjual pulpen dalam situasi yang tidak tepat bukan? apakah pulpen ini benar-benar dibutuhkan customer untuk menulis? lalu mengapa harus membeli pulpen kapada anda?
Apakah memang benar, tidak ada yang menjual pulpen seperti anda, disisi lainnya banyak diluar sana sedang mencari pulpen dan akhirnya mereka memilih untuk membeli pulpen kepada anda? nah, banyak analisa yang diperhitungkan disini dan itu tugas marketing.
Terlebih dari situ saya kembali ke point diatas, misalnya kita sudah tahu nih, siapa customer kita, usia, kesukaan dan darimana saja mereka membeli produk kita, sebut saja kita sudah punya customer yang membeli pulpen kita, tapi disisi lainnya kita tidak punya pemasok pulpen yang dia bisa menyediakan pulpen untuk kita selamanya. that the point! Dalam business supply chain, kita harus punya pemasok yang sudah pasti bisa memasok produk yang akan kita jual bukan? tanpa itu bagaimana kita bisa jualan. itu yang mungkin cenderung sering diabaikan oleh pebisnis khususnya ecommerce, disisi yang lain pemasokpun juga tidak boleh hanya 1 saja, karena kalau kita hanya mengandalkan 1 pemasok saja, jika sewaktu-waktu pemasok itu switch off atau kill business kita, disaat pemasar kita mempromosikan produk itu besar-besaran, maka tentu akan terjadi customer rejected, dan itu menimbulkan kekecewaan untuk customer tentunya, sehingga mereka akan berpikir bahwa kita sudah tidak menjual itu lagi, sekalipun kelak kita menjual, tentu kita akan melakukan promosi dari awal, lebih tepatnya membangun citra lagi untuk promosi “bahwa kami menjual pulpen lagi”.
Okey, jika diatas lebih ke arah ketersediaan produk, maka kali ini saya lebih berfokus pada data dan customer.
Dalam bisnis yang berhubungan dengan customer, data adalah segalanya, layanan adalah raja, maka tentunya sebuah bisnis harus pandai bagiamana cara mengelola customer agar customer baru yang telah membeli itu tidak lepas begitu saja, bagaimana agar bisa kita kelola, kita menjalin hubungan yang baik dengan mereka, dalam sistem layanan juga kita perlu memperhatikan, kecepatan, keramahan, kerapian hingga layanan setelah terjual (purna jual). kebanyak marketing akan puas dengan penjualan untuk merayu customer, namun lupa bahwa setelah mereka mendapatkan uangnya, ketika suatu saat customer komplain dan butuh bantuan “marketing pura-pura sibuk”. Disinilah point penting, yang membuat customer berpikir “kamu baik, jika ada maunya saja”. image inilah yang faktanya juga sering terbangun dalam bisnis online siap saji, memang tidak mudah mempertahankan layanan disertai dengan mencari penjualan terbaik.
Hmm… baiklah, bahasan diatas adalah bagaimana kita bisa memberikan pelayanan sebaik mungkin, disisi lainnya bagaimana kita bisa terus terhubung kepada customer. nah selanjutnya, jika mereka sudah terhubung dengan kita dengan baik, sudah melakukan penjualan, jangan sampai lupa, hal utama yang perlu dilakukan sebuah bisnis adalah: Mengumpulkan Data.
Setiap penjualan pasti ada customer yang membeli produk, setiap pembeli pasti punya identitas nama, alamat, nomor handphone, email dan lain sebagainya. Dalam pengelolaan terhadap pelanggan, mungkin kita harus tetap baik kepada mereka, menjaga hubungan baik, namun disisi lainnya kita juga perlu tahu, hal apa yang bisa kita berikan dan tetap berdampak untuk bisnis ini, ya itulah “DATA”.
Pengelolaan data customer dengan baik akan membantu sebuah perusahaan tetap terhubung dengan customer, selain itu jika kita mengadakan sebuah rapat tahunan kita bisa tahu dengan jelas:
Apa produk yang terlaris, siapa sebenarnya customer kita, usia mereka, dimana mereka berada, apa handphone mereka, ketertarikan mereka, hingga kapan waktu-waktu mereka menghabiskan uang untuk membeli.
Dan semua itu bisa disajikan dalam satu waktu berbentuk slide dan semua stakeholder berpikir untuk pengambilan keputusan, bahwa produk yang harusnya dijual dimasa depan adalah….dan tenyata customer kita adalah….daerah….beli pada waktu…..
Jadi ketika kita sudah memiliki data roadmapping seperti itu, kita lebih mudah dalam hal fokus untuk iklannya.
Nah, semua permasalahan diatas bisa dituliskan sedemikian rupa karena bantuan metode sprint yang dicoba diterapkan, dalam waktu 3 bulan kami mencoba mencari semua hal yang menghambat proses bisnis dari hulu ke hilir, dari semua aspek, dari semua lini bisnis dan mencari solusi bagiamana agar bisnis seperti ini bisa berjalan dengan baik, cepat dan produktif kedepannya. Dan salah satu bantuannya adalah dengan “INOVASI” membuat hal-hal terjadi dengan cara lebih mudah, cepat dan produktif namun tetap fleksibel.
- Dari sisi Pelayanan Customer apa inovasi yang bisa diterapkan untuk bisa mendongkrak layanan prima.
- Dari sisi kebutuhan produk, apakah yang dilakukan agar supply produk tetap terjaga.
- Dari sisi riset produk, siapa yang bisa membantu menganalisa trend produk dimasa depan.
- Birokrasi apa yang membuat customer lama dalam hal mendapatkan produk yang sudah dibeli.
- Siapa customer kita, dimana, usianya berapa, dan produk apa yang mereka butuhkan.
- Dalam marketing, strategy apa yang bisa digunakan agar setiap kali ada produk baru, customer bisa langsung mendapatkan kabarnya dan cara pembeliannya dengan mudah dan cepat?
- Darimana saja channel pemasaran (penjualan)? jalur dimana customer menemukan kita, tertarik lalu membelinya disana dengan mudah dan cepat.
Mungkin hal itu yang menjadi evaluasi dalam bisnis ecommerce ini. terlepas dari situ mungkin lebih ke bagaimana seharusnya untuk membuat manajemen yang baik, manajemen yang cepat (agile) dan adaptif dengan perubahan, khususnya dalam hal marketing sehingga inovasi berbasis layanan dan penjualan lahir setiap minggunya.
2. PERUSAHAAN MEDIA
Perusahaan yang terkenal dengan kecepatan updatenya, promosinya, hingga influencer yang kuat untuk mengajak orang-orang menontonnya. sangat berbeda dengan perusahaan Ecommerce diatas yang mana faktor kunci ada pada produk dan layanan customer.
Perusahaan media berbeda, mereka punya cara tersendiri untuk bertahann hidup dan menunjukkan dirinya. Perusahaan ini bergerak atas dasar inovasi dan ide-ide kreatif. selalu membuat trend, membuat hal-hal baru terjadi, membuat perubahan, energi dan memberikan daya positif.
Jika mereka berhasil membuat itu terjadi, maka siapapun usernya mereka, akan ikut mengikuti apa yang mereka sedang buat “trend” dan itulah fungsi dari media. memang semua itu menuntut kelelahan yang tinggi, metode belajar yang akut, dan ide-ide liar yang terus dipacu untuk menghasilkan semangat untuk mengajak banyak orang ikut dalam semangat itu sendiri, terkadang tanpa berpikir bahwa merekapun juga butuh semangat.
Dibalik layar media, mereka bekerja keras untuk selalu ada dan selalu mudah ditemukan orang pemirsanya, namun tentu lebih menyakitkan lagi jika tidak semua pemirsa mau menonton kita, kenapa? ada banyak faktor.
- Bosan dengan tayangan yang itu-itu saja.
- Tidak ada hal baru
- Tidak ada yang menarik sesuai yang dia sukai
- Tidak ada alasan kenapa saya harus menonton ini
Alasan-alasan itu terbilang cukup menyakitkan bagi pebisnis media, namun jika kita ambil garis besarnya bahwa: Sama halnya seperti kita, tentu kita mudah bosan dengan sesuatu, jika tidak menarik dan tidak ada hal yang membuat kita ingin menonton video misalkan, maka kita dengan mudah mengganti dengan menonton video lainnya bukan? ya, semudah itu seorang pemirsa berpindah kelain hati…
Berbeda dengan perusahaan Ecommerce, yang mana jika mereka sudah membeli, mereka akan meninggalkan datanya, sehingga jika kita bijak mengolah data tersebut, maka kita bisa dengan mudah tahu apa yang dibutuhkan oleh mereka dimasa depan.
Namun untuk hal yang satu ini, sebaliknya. Kitalah yang bertugas membuat Trend untuk masyarakat, dan ini yang membutuhkan banyak pemikiran kreatif, ide-ide liar, inovasi, berbagai cara agar yang penting bisa membuat menarik. Menarik untuk user dan juga menarik untuk pengiklan tentunya, yang menitipkan produknya untuk diiklankan melalui media yang terlihat ramai itu (endorsement) istilahnya.
So, hal yang perlu dilakukan adalah: membuat media kita ramai ditonton oleh masyarakat, selain itu media juga harus punya segmentasi pasar yang tepat, mereka bisa meyakinkan para pengiklan bahwa kita punya usia sekian, segmented sekian bla bla bla, intinya Media harus punya data yang akurat untuk ditawarkan kepada pengiklan. Karena ya dari situlah profitnya kan?
Sama halnya seperti situs dengan kunjungan tinggi, tidak ada orang mau iklan ke situs itu, jika kita saja tidak tahu berapa banyak orang yang sudah mengunjungi situs itu? apalagi tidak tahu siapa segmented dari situs ini, dan sebaiknya media juga perlu tahu siapa audience pasti mereka, lengkap dengan usia, lokasi dan kapan waktu mereka untuk menontonnya.
Untuk itulah Inovasi diperlukan lebih sulit dari biasanya.
Bersambung….
